Pengalaman Beternak Kenari 4 tahun silam (di Denpasar)

Kenari adalah burung yang sangat indah kicauannya, sangat elok parasnya, sangat beragam warnanya, sangat lembut gerakannya dan begitu menyenangkan bagi mata kita untuk mengamatinya.

Telah empat tahun ini saya memelihara kenari, pada awalnya hanya sekedar ikut-ikutan beberapa teman yang memelihara kenari karena saat itu sempat menjadi trend bagi penghobi kenari di Denpasar.  Tapi ketika trend itu memudar maka kawan-kawanpun segera beralih pada momongan yang lainnya.  Pada waktu itu saya telah punya dua ekor kenari jantan, satu ekor warna kuning dan seekor lainnya warna orange. Suara merdu yang terus menerus dan gerak lincah kenari yang menawan terus mampu memikat hati saya. Terus terang saya tidak tega menjual kedua kenari saya untuk ditukar dengan anakan punglor yang ditawarkan oleh seorang teman. Terlalu indah pesona suara kenari saya, dibanding dengan kepuasan sesaat yang belum tentu bisa saya nikmati nantinya, apalagi saat itu saya hanya seorang mahasiswa yang bergantung pada tambahan penghasilan dari usaha sablon di daerah Panjer, Denpasar.

Akhirnya setelah 1,5 tahun umur kedua kenari, saya berfikir untuk bagaimana kalau seandainya saya berusaha menangkarkannya. Meskipun tanpa pengalaman dan minim pengetahuan percobaan dimulai.  Saya membeli anakan kenari betina warna kuning seharga 150 ribu (waktu itu) yang saya tidak tahu berapa umurnya, karena pedagangnya juga tidak tahu pasti berapa umur sebenarnya kenari dagangannya.  Kemudian saya beli sangkar yang agak besar ukuran 40 x 50 dan dipasang sarang yang saya beli di toko burung di daerah Pasar Sanglah, Denpasar.  Dan akhirnya sepasang kenari warna kuning berada di satu kandang. Dengan harap cemas saya amati perilaku kedua kenari.

Baru beberapa menit raut penuh tanda tanya dan keheranan mulai menghinggapi wajah saya, ternyata kenari jantan terlalu agresif, dan berbunyi keras sambil bertengger di tangkringan atas, sambil mengepakkan sayapnya, terus berbunyi dan begitu galak. Sementara kenari betina berlarian kebingungan di bagian bawah sangkar menabrak kanan kiri. Hal ini terus terjadi, dan bukan itu saja, kenari jantan akhirnya malah menyerang kenari betina yang baru itu. Hal ini membuat saya sadar ini sangat berbahaya buat kenari betina dan akhirnya pada hari itu saya gagal total.

Kisah empat tahun itu membuat saya sadar betapa memang beternak kenari itu tidak segampang yang diduga, tapi setelah kita tahu teknik dan caranya, serta bermodalkan pengalaman yang cukup. Maka siapapun asal tekun dan memiliki niat pasti bisa menangkarkan burung kenari.  Saat ini saya memiliki belasan indukan kenari dan beberapa kenari jantan lokal berkualitas dan 2 ekor F3 Ys yang menjadi andalan bagi saya untuk terus memproduksi anakan kenari dengan kualitas yang baik.

Semoga ke depan blog ini mampu untuk memotivasi kawan-kawan semua disekitaran Bali untuk semakin berminat terhadap kenari dan mampu menjadi peternak kenari di Bali.

Suksma…

6 thoughts on “Pengalaman Beternak Kenari 4 tahun silam (di Denpasar)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s