Relevansi istilah dari keturunan kenari

Langsung saja, dari sisi historis Mendel melakukan uji coba persilangan dengan menggunakan tanaman, bukan dengan burung kenari karena mungkin saat itu mungkin Mendel belum tertarik dengan burung kenari..hehe. Contoh persilangan Mendel dengan menggunakan kacang kapri ini (bisa anda cari di Google dan sumber mana saja) adalah dengan mengawinsilangkan kapri sesama GALUR MURNI dengan ketinggian yang berbeda, namun saya akan mengandaikan dengan tanaman yang lebih familiar yaitu bunga mawar dan penjelasan simpelnya adalah seperti ini:

 

  mendel 1

 Dari hasil tersebut maka dapat diketahui bahwa mawar merah dominan terhadap mawar putih dan sebaliknya sehingga menghasilkan keturunan F1 mawar merah 100%. Dalam fenomena F2 nya akan menghasilkan  lebih dari 70% mawar merah dan sisanya akan menghasilkan mawar putih.

 

Ternyata Mendel mengetahui bahwa ada sifat-sifat lainnya dimana terdapat beberapa sifat individu yang jika dikawinkan tidak mempunyai sifat dominan atau resesif terhadap individu lainnya yang kemudian saya mengistilahkannya dengan peluang untuk menghasilkan keturunan yang Campuran dari masing-masing induknya yang akan dijabarkan sebagai berikut: 

 

 mendel2

 Dari hasil tersebut maka dapat diketahui bahwa dalam persilangan tersebut menghasilkan F1 mawar merah muda 100% yang akan diteruskan perkawinan sesama F1 mawar merah muda dengan peluang menghasilkan mawar warna merah : mawar warna merah muda dan mawar warna putih yang kemudian disebut F2.

 

Saatnya kita kembali lagi pada sosok burung kenari, nah sebenarnya Mendel tidak secara gamblang menyebut jenjang F3 dalam persilangannya namun ia menamakan dengan istilah yang lebih spesifik sesuai dengan sifatnya dimana mengawinsilangkan 2 jenis individu yang mempunyai 2 sifat berbeda atau lebih disebut sebagai dihibrid, trihibrid, tetrahibrid dan seterusnya. Dalam dunia burung kenari maka yang sering terjadi di kalangan peternak adalah fenomena yang sebenarnya disebut sebagai Hukum Mendel II dengan perkawinan silang model berpasangan bebas dan backcross.

 

Hukum berpasangan bebas ini bisa kita lihat saat beberapa peternak mengawinkan jenis hybrid x hybrid yang memiliki sifat yang banyak dan berbeda maka dalam penamaan ilmiahnya anakan hybrid x hybrid akan menghasilkan F1 yang kemudian Mendel mengujinya kembali dengan F1 x F1 dari hasil tersebut sehingga akan menghasilkan F2.

Dalam persilangan backcross malah fenomena inilah yang sebenarnya sudah banyak kita kenal yaitu  menghasilkan sifat F2 dengan cara mengawinkan F1 dengan salah satu induknya dan hukum ini biasanya digunakan secara salah kaprah karena pada dasarnya saat kita ingin mengwinkan F1 dari bloodline tertentu yang kemudian dikawinkan dengan bloodline yang berbeda maka tidak akan berlanjut pada jenjang F2 melainkan akan kembali menjadi root pasangan baru yang akan kembali menghasilkan F1 jika dikawinkan. Sebagai contoh: jika saya punya kenari hibrid dari sesama galur murni yorkshire (YY) x waterslager (ww) = F1 (YY, ww, Yw, wY, Yw) maka ketika saya mengawinkan jenis hibrid tersebut dengan border hasilnya F1 x border (bb) = F1 Yw x bb = Ywb, wbY, bwY, Ybw, bYw, wYb dan seterusnya.

 

Jadi sesuai dengan aplikasi Hukum Mendel di atas kita tidak akan menemui istilah AF yang sering disebut-sebut di kalangan peternak yang pada dasarnya sudah saya sebutkan dalam tulisan saya sebelumnya. Sejujurnya spekulasi dari penamaan AF sendiri bagi saya lebih tepat dalam komposisi sebagai Anak Filial (AF) dengan garis keturunan yang putus atau tidak terskema secara baik. Maka asumsi jenis AF ini bagi saya ketika 1 induk dengan sifat dan strain yang tidak jelas dikawinkan dengan induk yang tidak jelas juga maka akan menjadi AF.

Begitu pula kerancuan mengenai variabel dibelakang Filial dimana orang secara gampang sering menyebutnya hanya dengan tujuan menaikkan pamor dan orientasi bisnis, misalnya saja Yorkshire x fusan = F1ys. Bagaimana mungkin variabel fusan bisa lenyap begitu saja? Jelas penamaan ini juga kurang lengkap! Kenapa kita tidak menyebutnya F1 ysfs? biar belibet di lidah kan yang penting jelas?

Dan tentu saja jika kita termasuk peternak yang menyilangkan sesama F tanpa meninggalkan roots hibridnya maka F1 x F2 akan menjadi F3, F3 x F2 = F4 dan jika harus di backcross kan kembali dengan induk penghasil F1 nya maka akan menjadi (induk/parental x F4 = F5) dan setelah F5 akan disilangkan lagi dengan F1 maka kita bisa mengambil lajur pemetaan persilangan baru lagi atau meneruskannya sehingga akan menjadi F6. Dalam pemahaman ini maka lebih tepatnya kita tidak akan menghasilkan galur murni dengan berbagai persilangan tersebut melainkan mampu menghasilkan sifat tetap yang dominan baik memunculkan sifat baru ataukah bertahan.
Jadi saat kita menyebut F1(ys) maka berdasarkan pola penalaran di atas bisa dijabarkan bahwa filial tersebut berasal dari perkawinan jenis yorkshire (ys) x yorkshire (ys) dan begitu pula penalaran F2(ys) adalah F1ys x ys yang dijabarkan sebagai ((ys x ys) x ys)). Selain itu pola pemetaan persilangan akan membantu peternak/penyilangnya memahami sifat-sifat hasil silangannya yang mampu dijadikan sebagai model untuk menghasilkan burung berkualitas bagus.

Dengan pemaparan Mendel tersebut sebenarnya bukan mengajarkan kepada kita tentang masalah penamaan F1, F2 dan seterusnya melainkan adalah mengetahui skema, sifat, fenomena dan tujuan menyilangkan suatu individu tertentu yang kemudian bertujuan untuk menghasilkan suatu individu yang baik dan sejalan dengan harapan peternak/penyilangnya.

 

Semoga bermanfaat…

Suksma

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s