Penilaian Lomba Kenari di Kelas Bebas

Aspek irama dan lagu kenari

Dalam percakapannya dengan Tabloid Agrobur, Om Agus Sanjaya menjelaskan dua prinsip utama dalam penilaian kenari, yaitu aspek irama dan lagu.

Aspek irama mencakup beberapa hal, misalnya cengkok dasar, pankenari berkicaujang dan pendeknya lagu, suara alunan (intonasi naik / turun) yang dibawakan kenari saat bernyanyi. Ada yang seperti suara gemericik air, suara bergema, dan sebagainya.

Selain itu, volume juga perlu didengar dengan seksama, terutama tebal dan tipis, keras dan  nyaring, serta asuara besar (ngebass) dan suara kecil (treble).

Adapun aspek lagu meliputi variasi lagu yang dibawakan kenari. Tentu saja variasi lagu pada kenari standar berbeda dari kenari isian. Ketika dilombakan bersama, yang penting lagu dapat dibawakan dengan bagus dan enak didengar di telinga.

Sebagaimana perkutu, suara kenari sebenarnya masih bisa dibagi lagi menjadi suara depan, suara tengah, dan suara belakang. Dulu, banyak dijumpai kenari yang memiliki lagu dengan suara depan kencang, suara tengah mengalun sedang, lantas suara belakang mengalun pelan-pelan dan akhirnya stop, kemudian bunyi kembali (mulai dari suara depan lagi).

Tetapi sekarang, sulit menemukan kenari dengan lagu seperti itu. Namun, hal itu tidak terlalu signifikan dalam konteks penilaian sekarang, meski jika didengar terasa lebih enak.

Dari dua aspek dasar tersebut, irama dan lagu, intinya kicauan burung harus bagus serta enak didengar. Nah, kata bagus ini meliputi ada dan tidaknya cengkokan, intonasi naik turun lagu yang dinyanyikan, dan durasinya sangat panjang.

Suara panjang itu pun harus memperhatikan apakah ada suara angkatan (suara depan), suara tengah, dan suara belakang. “Volumenya harus tebal, kencang, keras, nyaring, agar terdengar di telinga tim juri saat menilainya,” kata Om Agus.

Di luar kedua aspek dasar itu, juri juga akan memperhatikan kestabilan kenari saat bernyanyi dalam waktu yang disediakan. Durasi kestabilan berkicau minimal harus mencapai 70% dari waktu yang disediakan panitia.

Semua kenari punya hak sama untuk dinilai

“Jadi, dalam kelas bebas, semua kenari memiliki hak yang sama untuk dinilai. Tidak peduli kenari isian, standar, bongsor, maupun kecil. Semuanya tergantung irama, lagu, volume, dan durasi kestabilan berkicau,” jelas Om Agus.

Sebagai contoh, kenari isian memiliki lagu bagus, tetapi kerjanya kurang stabil (tak mencapai 70% dari waktu yang disediakan panitia). Posisinya bisa tergeser kenari standar yang punya irama, lagu, dan volume yang dahsyat, durasi bernyanyi panjang, dan kestabilan kerjanya bisa lebih dari 70%.

Tetapi kalau kenari isian memiliki irama lagu yang bagus, voleume keras dan panjang, dapat bekerja maksimal (lebih dari 70% waktu yang disediakan), peluang menjadi juara lebih besar daripada kenari standar dengan kualitas yang sama. Mengapa?

“Sebab jika ada dua kenari, yang satu isian dan satunya lagi standar, sama-sama kerja bagus, kualitas dan kriterianya dalam bernyanyi imbang, maka juri akan lebih mengedepankan isian. Soalnya mengisi lagu pada kenari itu tidak mudah. Jadi, kita menghargai sang perawat yang bersusah-payah memaster kenarinya agar tetap stabil dan tidak glender. Jadi kita ambil kenari isian sebagai pemenangnya,” tutur Om Agus.

Bagaimana dengan kenari bodi besar dan kecil? Selama ini banyak yang menganggap kenari bongsor ketika bunyi langsung menutup semua lapangan, atau istilahnya volumenya tembus. Tetapi dalam penilaian lomba, juri bukan sekadar melihat hal itu. Juri juga akan mencermati frekuensi bunyi dari kenari bongsor itu berapa kali?

Apabila rajin bunyi, alias stabil, punya irama, lagu, dan volume di atas rata-rata, ya bisa saja menang. Tetapi jika tidak, misalnya hanya bunyi 2-3 kali saja, meski volume, lagu, dan irama bagus, kenari besar bisa kalah dari kenari kecil yang rajin bunyi, serta memiliki volume, lagu, dan irama yang bagus dan panjang.

Kenari kecil mengalahkan bongsor sudah beberapa kali terjadi dalam kontes Paburi Klaten yang memang bisa dikatakan “bebas kepentingan”. Hanya saja, di luar even Papburi, rasanya jarang terjadi kenari kecil mengalahkan kenari besar.

Dalam konteks inilah, upaya event organizer tertentu seperti BnR untuk memisahkan kenari besar dan kenari kecil patut diapresiasi. Persoalannya, mengapa pemisahan hanya dilakukan untuk kenari standar besar dan kenari standar kecil? Mengapa itu tidak dilakukan pula untuk kenari isian besar dan kenari isian kecil?

Oleh Om Agus Sanjaya, pengamat kenari sekaligus juri lomba di IKBPS Solo

Semoga Bermanfaat, Suksma

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s