Seni Menunggu

Reza A.A Wattimena

Orang berkata, bahwa malam tergelap hadir tepat sebelum fajar menyingsing. Sebelum matahari terbit, malam mencapai puncak kegelapannya.

Tepat hal yang sama kurang lebih terjadi di dalam hidup. Sebelum orang memperoleh sesuatu yang baik, ia biasanya harus ditempa dalam kesulitan dan tantangan hidup yang berlipat.

Tantangan hidup itu bisa bermacam-macam. Akan tetapi, tantangan hidup yang terbesar adalah tantangan yang menghalangi kita menggapi mimpi-mimpi kita, tantangan yang menjauhkan kita dari apa yang menjadi cita-cita utama hidup kita.

Sebelum mimpi yang manis bisa terwujud di dalam realitas, kita harus berjalan melewati api tantangan dan kesusahan. Justru api tantangan dan kesusahan itulah yang membuat semuanya menjadi begitu berarti, ketika kita berhasil mendapatkan apa yang kita inginkan.

Tantangan dan kesusahan juga bisa menghalangi kita dari sumber kebahagiaan yang sepantasnya kita miliki. Akan tetapi, tantangan dan kesusahan itulah yang juga nantinya akan membuatkan kebahagiaan kita semakin besar, ketika kita berhasil mendapatkannya.

Seni Menunggu

Yang diperlukan adalah sedikit kesabaran. Kesabaran yang diperoleh, ketika orang menguasai seni menunggu.

Ingatlah, hal-hal baik datang kepada mereka yang mau menunggu. Tanpa penantian yang panjang, kebahagiaan yang otentik tidak akan pernah tercapai.

Kemampuan orang untuk menunggu ditantang, ketika ia berada di dalam kesulitan. Kesulitan adalah batu ujian dari kemampuan kita untuk menunggu, untuk bersabar.

Di dalam buku berjudul Come be My Light, Mother Teresa diminta menunggu, sebelum ia menjalankan misinya untuk berkarya di antara orang miskin dan papa. Momen menunggu disini dianggap sebagai momen untuk mempertimbangkan, berdoa, berpuasa, supaya keputusan yang diambil sungguh-sungguh didasarkan pada niat yang benar, dan pikiran yang jernih.

Momen menunggu juga bisa dipandang sebagai proses pemurnian motivasi. Di dalam penantian, motivasi orang diuji di dalam waktu. Hanya motivasi yang tulus dan benarlah yang bisa lulus ujian tersebut.

Tidak heran, banyak tradisi budaya kuno meminta orang untuk bersemedi, berpuasa, dan berdoa sebelum ia menjalankan suatu misi yang dianggap mulia. Hal-hal besar hanya terjadi pada mereka yang siap untuk dengan sabar dan tabah menunggu.

Tuhan selalu Ada

“Janganlah takut. Aku selalu bersamamu. Percayalah padaKu dengan penuh cinta. Percayalah padaKu secara buta.” Begitulah kata Tuhan kepada Mother Teresa, ketika ia mengalami kegundahan.

Tuhan mendampingi orang, ketika ia sedang menempuh masa penantian yang berat dan lama. Yang diperlukan oleh orang itu adalah kepasrahan total kepada Tuhan. Ia harus yakin, bahwa semua akan baik pada akhirnya.

Di dalam masa penantian, orang tidak hanya diuji motivasinya, tetapi juga keseluruhan dirinya. Segala sesuatu yang ada padanya dipertaruhkan, dibenturkan, dan diolah di dalam kesulitan serta kepedihan.

Untuk melewati masa penantian ini, orang perlu untuk percaya. Kekuatan intelektual tidaklah cukup. Diperlukan kematangan emosi, intelektual, dan spiritual, supaya orang bisa melewati masa penantian yang berat ini dengan selamat.

Orang perlu percaya, bahwa semua ini dilakukan dengan niat baik dan pemikiran yang jernih. Terlebih, orang juga perlu percaya, bahwa ia akan selamat di dalam perjuangan sampai akhirnya nanti.

Tanpa kepercayaan semacam itu, hidup akan terasa hampa. Kepercayaan membuat orang bertahan di dalam kemalangan, karena ia yakin, bahwa ia tidak sendirian. Tuhan selalu berada di sampingnya.

Hidup tidak Absurd

Memang, kesulitan hidup seringkali datang bertubi-tubi. Ibaratnya, sudah jatuh kemudian tertimpa tangga. Banyak orang mengalami hal semacam ini.

Hal-hal negatif ini direfleksikan oleh seorang filsuf Perancis abad kedua puluh, Albert Camus. Ia sampai pada kesimpulan, bahwa hidup manusia ini absurd.

Hidup ini tidak memiliki alasan. Hidup juga tidak memiliki arah. Akan tetapi, manusia tidak boleh lari dari hidup yang absurd ini. Manusia harus menatap dan menghadapinya dengan jiwa besar. Manusia harus menghadapinya dengan kebahagiaan.

Apa yang dikatakan Camus memang memiliki kebenaran sendiri. Namun begitu, refleksi itu keluar dari mulut seseorang yang tidak memiliki kepercayaan, bahwa hidup ini bermakna.

Kesulitan hidup adalah tahap awal sebelum kita sampai pada kebahagiaan. Yang kita perlukan adalah rasa percaya, bahwa kesulitan ini bukanlah akhir, melainkan awal dari sesuatu yang lebih besar.

Jika dilihat seperti ini, yakni dengan kaca mata kepercayaan, maka hidup tidaklah absurd. Hidup memiliki makna yang dalam. Hidup adalah penantian; penantian yang memerlukan perjuangan untuk menjalaninya.

Kita perlu yakin, bahwa di akhir penantian dan perjuangan ini, kita akan memperoleh kebahagiaan. Kebahagiaan yang justru semakin besar, ketika kita memperolehnya dengan kesusahan.

Hidup yang sempurna bukanlah hidup yang tanpa cacat, melainkan hidup yang justru sempurna di dalam segala cacatnya. Hidup yang tetap indah dan bermakna, walaupun darah dan keringat adalah taruhannya.***

 

Semoga bermanfaat….

Suksma

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s